NELAYA-Aceh Indonesia (AI)
Diperbarui: - yang laluPublic Preview
DashboardNewsAir Mata di Meureudu: Kisah Pak Idham, Antara Runtuhnya Rumah dan Kepergian Sang Cahaya
Dashboard

Air Mata di Meureudu: Kisah Pak Idham, Antara Runtuhnya Rumah dan Kepergian Sang Cahaya

29/12/2025Meureudu, Pidie JayaHuman Interest
#banjir#pidie-jaya#meureudu#korban#dukungan-psikososial#senyar
Air Mata di Meureudu: Kisah Pak Idham, Antara Runtuhnya Rumah dan Kepergian Sang Cahaya
Meureudu, Pidie Jaya — dampak banjir 26 November 2025.

Dalam hening fajar 26 November 2025, air dan tanah menyapu sebagian Meureudu, Pidie Jaya. Bagi Idham (50) (bukan nama sebenar), bencana itu bukan hanya tentang lumpur yang memenuhi rumah hingga plafon, tetapi juga awal dari ujian terberat dalam hidupnya—ujian yang meminta korban tertinggi: anak pertamanya yang tengah merajut mimpi di Banda Aceh.

Dinding-dinding rumah Pak Idham seolah menyimpan gemuruh yang tak pernah benar-benar reda. Di rumah sederhana yang kini masih dipenuhi sisa-sisa lumpur dan coretan garis ketinggian banjir, suara tawa tiga anaknya seakan masih bergema. Malam 25 November 2025 jelang 26 November 2025 adalah titik ketika hidup keluarga kecil ini berubah selamanya.

“Saat itu, air sungai bukan lagi air, tapi seperti raksasa yang membawa kayu-kayu gelondongan dan tanah merah,” kenang Pak Idham, suaranya parau, sementara sang istri terlihat menggenggam erat bahunya. Curahan hujan dari badai siklon tropis Senyar mengubah sungai yang biasanya ramah menjadi penghancur. Rumah mereka, bersama puluhan rumah lainnya di sekitar, dalam sekejap terendam lumpur hingga mendekati langit-langit. “Kami lari hanya dengan baju yang melekat di badan. Panik. Yang ada di kepala hanya menyelamatkan anak-anak yang masih kecil,” ujar istrinya.

Berbondong-bondong, mereka menyelamatkan diri ke tempat yang dianggap lebih aman. Namun suasana kepanikan kolektif membuat situasi semakin pelik. “Hampir tidak ada tempat yang benar-benar aman dan mencukupi untuk semua. Kami bergantian berteduh, berbagi selimut dengan tetangga yang sama-sama kedinginan,” tambah Pak Idham.

Namun takdir menuliskan cerita yang lebih pilu. Genap sekitar sebulan setelah banjir, pada Sabtu 27 Desember 2025, telepon dari seorang kerabat di Banda Aceh mengabarkan putri sulung mereka mengalami musibah kecelakaan lalu lintas. “Dia tidak merasakan banjir, tapi malah mendapat takdirnya sendiri,” bisik Pak Idham, air matanya tak lagi mampu dibendung.

Kisah Pak Idham adalah potret getir dari banyak keluarga di Meureudu: berjuang bukan hanya melawan amukan alam, tetapi juga melawan ketetapan takdir.

Verifikasi
Status: sementara
Sumber verifikasi: Wawancara/kesaksian warga setempat + dokumentasi lapangan
Catatan: Nama disamarkan. Fokus tulisan: dampak kemanusiaan, bukan laporan kronologis lengkap.
Catatan: konten ini bersifat dokumentasi/kurasi. Jika menyangkut keputusan kebijakan, rujuk sumber resmi + verifikasi lapangan.