Kenapa hari ini Nelaya-AI menyorot “energi gelombang”, bukan sekadar tinggi gelombang?
Dalam praktik harian, banyak laporan berhenti hanya pada “gelombang 1–2 meter”.
Nelaya-AI ingin memberikan analisa dampak yang dapat terjadi dari berapa besar energi yang sedang menekan pesisir Aceh
Karena pengaruh energi lebih dekat dengan dampak abrasi, run-up pantai, gangguan perahu kecil, hingga tekanan pada struktur pesisir.
Hari ini kita pakai proxy energi gelombang yang sederhana tapi kuat: Hs²
(Hs = significant wave height / VHM0). Ini bukan unit energi absolut, tapi peta relatif yang sangat berguna untuk membandingkan area mana yang “paling ditekan”.
Snapshot Visual (Heatmap) — Level A
Peta Tinggi Gelombang (Hs / VHM0)

Petunjuk: warna yang makin kuat = Hs makin tinggi.
Ini penting untuk keselamatan pelayaran & operasional nelayan, terutama perahu kecil.
Peta Energi Gelombang (Proxy Hs²)

Petunjuk: area “paling terang/kuat” = energi relatif terbesar (Hs²).
Ini indikator tekanan energi ke pesisir barat Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
Top-3 Hotspot Energi Gelombang

Hotspot ini diambil otomatis dari grid: Top-3 nilai Energy relatif tertinggi .
Sumber data tabelnya :
/insights/2026-02-03-wave-hotspots.csv
Apa maknanya untuk Aceh?
Lensa Bencana — “Energi tinggi = tekanan pesisir”
Energi gelombang tinggi di koridor barat Aceh biasanya berarti:
- potensi abrasi/run-up meningkat di pantai yang terbuka,
- risiko kerusakan ringan–sedang pada fasilitas pesisir (tambatan, bangunan dekat pantai),
- peningkatan risiko untuk perahu kecil (terutama saat keluar masuk muara/dermaga).
Ini bukan alarm yang perlu membuat panik. Ini hanyalah sinyal: pesisir sedang menerima ‘dorongan energi’ lebih kuat.
Lensa Kebijakan — dari “peringatan umum” menjadi SOP berbasis nila ambang batas
- jika Hs/energi melewati ambang, keluarkan pesan risiko operasional,
- siapkan titik pantau pesisir (community reporting),
- tentukan prioritas perlindungan (misal wilayah yang berulang jadi hotspot).
Kuncinya: kebijakan tidak lagi berbentuk dokumen, tapi menjadi “workflow harian”.
Lensa Laut — kenapa barat Aceh sering dominan?
Pesisir barat Aceh dan Simeulue menghadap Samudra Hindia, sehingga lebih rentan menerima swell/gelombang panjang.
Di periode tertentu, energi bisa “terfokus” di koridor tertentu tergantung angin regional + kondisi gelombang lepas.
Kaitkan dengan FGI (Fish Ground Index)
FGI kita adalah “peluang ikan”, sehingga penilaianya harus lebih realistis:
- Jika FGI tinggi namun energi gelombang ekstrem, maka rekomendasi harus “turun tingkat” demi keselamatan.
- Nelaya-AI menambahkan Risk Penalty untuk dalam menganalisa:
FGI_final = FGI_base × (1 - risk_wave)
di manarisk_wavemeningkat saat Hs atau energi melewati nilai ambang batas.
Hasilnya: Analisa yang dilakukan oleh tim Nelaya-AI lebih smart dari hanya sekadar memetakan peluang karena juga ikut memetakan peluang + risiko.
Data & Transparansi
- Sumber data gelombang: CMEMS / Copernicus Marine (produk wave ANFC; variabel Hs/VHM0).
- Area analisis: 92°E–99°E, 1°N–7°N (Aceh–Simeulue box).
- Data update terakhir: 2026-02-02 (Insight tayang 3 Feb 2026).
by: Nelaya-AI (Aceh-Indonesia)